Berikut Penyebab Kebakaran Hutan di Kalimantan

Berita Trend Indonesia- Seperti yang kita tahu, saat ini masyarakat sedang dihebohkan dengan adanya berita kebakaran hutan dan lahan di daerah Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Kalimantan Barat (Kalbar).

Sebagai informasi bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalteng, Kalsel, dan Kalbar telah terjadi dengan sangat masif, dan berjalan selama beberapa hari, dan sampai saat ini banyak asap tebal yang masih menyebar di jalanan.

Berdasarkan data yang ada, maka dijelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan telah menyebar mencapai 33.837 hektare.

Sebagian besar masyarakat Kalimantan mengeluhkan adanya fenomena kebakaran hutan dan lahan tersebut, dan asap tebal di jalanan juga sangat mengganggu kesehatan dan aktivitas warga.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, hasil pantauan dari satelit di Indonesia, maka kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini di Provinsi Kalimantan telah mencapai 1.487 hotspot.

Berton SP Panjaitan menjelaskan, konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul Kalimantan Barat 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak 3 titik.

Berton SP Panjaitan mengaku bahwa saat ini pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk memperkuat kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi perkembangan titik panas yang tersebar di Kalimantan.

Diketahui, Indonesia saat ini sedang mengalami musim kemarau, hal tersebut juga mendorong meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di pulau Kalimantan karena akses air yang susah.

Kualitas Udara Memburuk

Akibat kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah wilayah, kualitas udara yang dihasilkan memperparah keadaan di Kalimantan.

Asap yang dihasilkan dari kebakaran yang terjadi mengandung partikel berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Tidak hanya itu, asap tersebut juga mengganggu jarak pandang seseorang ketika sedang beraktivitas di luar.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan ini tidak hanya menimbulkan permasalahan di dalam negeri tetapi berimbas sampai ke negara tetangga terutama Malaysia.

Menurut Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Serawak (JPBN), pencemaran udara di wilayah tersebut sudah melebihi batas ambang polusi. Sebanyak 108 sekolah di Serian, Serawak, Malaysia ditutup sementara untuk menghindari aktivitas di luar.

Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Serawak (JPBN) menjelaskan sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup saat Indeks Pencemaran Udara (API) mencapai angka 200.

Sejak tanggal 1 Agustus 2026 peningkatan API mencapai angka 202 sampai 212 dikategorikan wilayah tidak sehat. Wilayah tersebut yaitu Kuching, Sri Aman, Lubok Antu, Sibu, dan Bintulu.

Antisipasi Kebakaran Hutan Meluas

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimbau kepada pemerintah daerah dan seluruh masyarakat untuk selalu waspada terhadap bencana yang terjadi. Pemerintah daerah diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan serta selalu memantau perkembangan titik panas yang berpotensi terbakar.

Dihimbau juga untuk seluruh masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran di wilayah yang rawan terbakar. Jika masyarakat melihat dan mengetahui adanya aktivitas tersebut maka segara melaporkan kepada otoritas daerah setempat sehingga penanganan cepat dilakukan.

Selain itu masyarakat diminta untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan karena akan mempengaruhi kesehatan.

Kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan yaitu anak-anak, ibu hamil, lansia dan orang – orang yang memiliki masalah pernapasan.

Pemerintah juga menegaskan kepada seluruh masyarakat untuk selalu menggunakan masker saat bepergian dan tetap hati- hati ketika sedang mengemudi kendaraan.

Related posts